Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2024

Pokok - Pokok Pemikiran Filsafat Ibnu Sina

  Terdapat 2 poko pemikiran Ibnu Sina terhadap Filsafat, yaitu Filsafat Wujud dan Filsafat Emanasi 1.       Filsafat Wujud        Dalam pembuktian tentang eksistensi Tuhan, Ibn Sina menempuh jalan yang agak berbeda dengan jalan yang ada adalam agama dan juga dengan dalil para teolog (ahli mutakallimin) yang tertitik tolak pada konsep "alam baharu ia sebenarnya hanya melanjutkan dalil ontologi yang berasal dari Aristoteles dan mengikuti al-Farabi sebelumnya dengan membagikan wujud ini kepada dua jenis, yaitu wajib al-wujud dan mumkin al-wujud, sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya. [1]          Wajib al-wujud adalah sesuatu yang ada (al-manjud) yang jika diandaikan tidak ada, ia menjadi mustahil, dengan kata lain ia mesti adanya. Sedangkan yang dimaksud dengan mumkin al-wujud dalah yang tidak diandaikan, tidak ada atau ada, ia tidak menjadi mustahil, maksudnya ia boleh ada dan boleh...

Bersuara Tanpa Beraksi Sama Dengan Basi

  Mahasiswa adalah suara rakyat. Mahasiswa adalah agent of chage. Kita semua sudah mengetahuinya. Sering kali mahasiswa mengadakan, berpartisipasi, dan menginisiasi dalam demo, protes, dan lain sebagainya sebagai wujud penyuaraan akan pendapat mereka. Namun acap kali demo, atau unjuk rasa hanya menyisakan kelelahan dan nihil hasil. Hal ini disebaban aksi bersuara tidak dibarengi dengan aksi lapangan yang seimbang. Sama halnya dengan seseorang yang ingin menjadi pribadi produktif dengan membaca puluhan buku dan mendengarkan ratusan podcast self improvement, ia tidak akan menjadi pribadi produktif sampai memutusdkan untuk memulai langkahnya untuk melakukan suatu hal sehingga ia mencapai tingkatan produktif. Untuk menyelesaikan permasalahan yang sudah disuarakan perlu adanya aksi lapangan, aksi nyata. Pertanyaannya sekarang berapa perbandingan mahasiswa yang bersuara dan beraksi? Apakah keduanya seimbang? Atau hanya yang bersuara lebih banyak daripada yang beraksi? Aksi bukan hanya ...

Naik Angkutan Umum Lebih Hemat Waktu dan Tenaga Dengan Cara Ini

  Hidup di Jakarta sudah tidak asing dengan angkutan umum, bahkan bisa saja kamu hafal macam-macam angkutan umum hanya saja belum pernah menaikinya. Padahal menjelajahi penjuru Jakarta lebih menyenangkan dengan menaiki angkutan umum. Masalahnya sering kali pengguna angkutan umum mengeluh dengan waktu tempuh menjadi 2 kali lebih lama daripada menggunakan kendaraan pribadi, dan juga lebih melelahkan karena harus berdiri sepanjang perjalanan jika kursi-kursi penumpang penuh. Padahal solusi tepat untuk itu adalah kamu hanya perlu memadukan beberapa macam angkutan umum. Contoh Si A ingin berangkat dari Parung Panjang ke Masjid Istiqlal. Angkutan umum yang bisa membawa Si A ke Masjid Istiqlal adalah angkot, Transjakarta, KRL, dan Jaklingko. Rute termudah adalah dengan menggunakan KRL dari stasiun Parung Panjang ke arah tanah abang, kemudian transit di tanah abang lanjut jurusan cikarang berhenti di stasiun Manggarai untuk transit ke 2. Dari Manggarai naik KRL jurusan Bogor, dan berhent...