Terdapat 2 poko pemikiran Ibnu Sina terhadap Filsafat, yaitu Filsafat Wujud dan Filsafat Emanasi
1.
Filsafat Wujud
Dalam pembuktian tentang
eksistensi Tuhan, Ibn Sina menempuh jalan yang agak berbeda dengan jalan yang
ada adalam agama dan juga dengan dalil para teolog (ahli mutakallimin) yang
tertitik tolak pada konsep "alam baharu ia sebenarnya hanya melanjutkan
dalil ontologi yang berasal dari Aristoteles dan mengikuti al-Farabi sebelumnya
dengan membagikan wujud ini kepada dua jenis, yaitu wajib al-wujud dan mumkin
al-wujud, sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya.[1]
Wajib al-wujud adalah sesuatu yang ada
(al-manjud) yang jika diandaikan tidak ada, ia menjadi mustahil, dengan kata
lain ia mesti adanya. Sedangkan yang dimaksud dengan mumkin al-wujud dalah yang
tidak diandaikan, tidak ada atau ada, ia tidak menjadi mustahil, maksudnya ia
boleh ada dan boleh tidak ada atau tidak ada dari sisi apapun.[2]
Konsep ini semata-mata bersifat dalil aqli, namun Ibn Sina menjabarkanya dengan
membagikan wajib al-wujud menjadi dua bagian, yaitu:
a.
. Wajib al-wujud bi zatihi, wujudnya ada karena zatnya
semata, sehingga mustahil jika diandaikan tidak ada, karena adanya tidak butuh
sebab yang lain di luar dirinya.
b.
Wajib al-wujud bi ghoiriki, wujudnya karena ada sesuatu
yang lain di luar zatnya, umpamanya tempat adanya itu bukan karena dirinya,
melainkan hasil penambahan dua dengan dua.[3]
Adapun yang
mungkin itu daat dilihat dari sisi zatnya. Dalam hal ini, ia tidak mesti ada
dan tidak ada, dan karena itu disebut mungkin mumkin bi zatihi. Dan ketika ada
sebab, maka ia menjadi wajib dan juga meliputi segala sesuatu yang ada
menjangkau alam semesta, sehingga ia disebut dengan wajib al wujud dengan
zatnya, maka itu adalah Tuhan yang dari- Nya berasal segala yang ada ini.2[4]
2.
Filsafat Emanasi
(al-Faydh)
Filsafat emanasi
atau al-faidh adalah teori pancaran tentang penciptaan alam, yang mana alam ini
maujud karena limpahan dari Yang Mahasa Esa (The One). Ibnu Sina sepertinya
mengalami kesulitan dalam menjelaskan masalah ini, yaitu bagaimana terjadinya
yang banyak (alam) yang bersifat materi berasal dari Allah yang imateri dan
Maha Sempurnah. Dalam filsafat Yunani, Tuhan bukanlah penciptaan alam,
melainkan ia adalah penggerak pertama (prime cause). Untuk memecahkan masalah
ini, maka Ibn Sina memecahkan dengan teori emanasi (pancaran). Sebenarnya teori
emanasi ini bukanlah berasal murni dari hasil renungan Ibn Sina. Tetapi berasal
dari Neoplatonisme yang menyatakan hal ini terjadi (wujud alam) padahal
pancaran dari Yang Esa. Kemudian Ibn Sina mengambil kaidah filsafat Plotinus
yang menyatakan bahwa: "Dari yang satu hanya satu yang melimpah."[5]
Dengan demikian, dapat dipahami berti Tuhan bergerak (prime cause) dari dokrin
spekulatif filsafat Yunani (Aristoteles) telah bergeser menjadi Tuhan sebagai
pencipta dari sesuatu yang sudah ada secara pancaran.
Bila dicermati
secara seksama, filsafat emanasi Ibn Sina tidak jauh berbeda dengan emanasi
menurut al-Farabi, bahwa dari Tuhan memancar akal pertama, dan dari akal
pertama memancar akal kedua, dan langit pertama:
Adapun proses
pelimpahan tersebut menurut Ibn Sina, adalah bahwa Allah memikirkan tentang
diri-nya, maka melimpahkan akal pertama yang mengandung dalam diri-nya kejamaan
potensial, yaitu antara mungkin dan wajib, ia mungkin dari segi zatnya dan
wajib dari segi wujudnya yang nyata, karena ia memikirkan asalnya (Allah), maka
melimpahkan dirinya akal kedua dan dari segiia memikirkan zat-Nya, sebagai yang
wajib adanya dengan sebab lain dari-nya, maka melimpahkan jiwa falak tertinggi,
dan dari segi ia memikirkan zat-Nya sebagai sesuatu yang mungkin (ada dan tidak
adanya), mak demikian seterusnya, sehingga tercappai akal ke sepuluh dan bumi.
Dari akal kesepuluh memancar segala apa yang terdapat di bumi yang berada di
bawa bulan. Akal pertama adalah malaikat tertinggi dan akal kesepuluh adalah
malaikat Jibril.[6]
a melimpahlah jism
falakiyah tersebut.[7]
Berlainan dengan
al-Farabi yang berpendapat, bahwa akal pertama itu memunyai satu sifat, yaitu
wujud. Dan setiap wujud hanya melahirkan dua macam, yaitu wujud berikutnya dan
langit atau planet. Ibn Sina berpendapat, bahwa akal pertama mempunyai dua
sifat, yaitu sifat wajib wujud pancaran dari Tuhan dan sifat mungkin wujud,
jika ditinjau dari hakikat dari nya.[8]Dengan
demikian ia mempunyai tiga obyek pemikiran, yaitu Tuhan, dirinya sebagai wajib
wujudnya. Berasal dari pemikiran. tentang Tuhan timbula akal-akal, dari
pemikiran tentang dirinya sebagai wajib wujudnya timbul jiwa-jiwa, dan dari
pemikiran tentang dirinya sebagai mungkin wujudnya timbul langit-langit.
Jadi ketika akal
pertama berpikir, maka memancarkan akal selanjutnya, sekaligus juga memancarkan
dua wujud lainnya (bukan satu sebagai mana pendapat al-Farabi), yaitu apa yang
disebut jism al falak al-aghsya dan nafs al-falak al-aghsya adalah jiwa dari langit
dengan semua planet-planetnya.[9]Adapun
akal-akal dan palent-planet dalam emanasi di atas, menunjukkan dipancarkan
Tuhan secara hirarki. Keadaan ini bisa terjadi karena ta'aqqul Tuhan tentang
dirinya sebagai sumber energi dan menghasilakan energi yang maha dahsyat. Ta
aqqul Tuhan tentang zat-nya adalah ilmu Tuhan tentang dirinya, dan ilma itu
adalah daya (al-qudrat) yang menciptakan segalanya. Agar sesuatu itu tercipta,
cukup sesuatu itu diketahui oleh Tuhan. Jadi taaqqul Tuhan[10]terhadap
zat-nya (energi) itula diantaranya yang menjadi akal-akal, kemudian jiwa-jiwa
yang lainnya memadat menjadi planet-planet.
Teori emanasi Ibn
Sina juga menghasilkan sepuluh akal dalam sembilan planet. Sembilan planet dan
akal kesepuluh mengurusi bumi. Berbeda dengan pendahuluan, al-Farabi bagi Ibn
Sina, masing-masing jiwa berfungsi sebagai penggerak satu planet, karena akal (immateri)
tidak bisa langsung menggerakkan planet yang bersifat materi.[11]
Sesuai dengan cara tersebut, limpahan itu terus berlangsung dalam wujud akal,
jiwa dan jasad, hingga berakhir pada akal kesepulu atau jibril dan bulan.
Jumlah semua akal ada sepuluh dan falak ada sembilan. Akal kesepuluh inilah
yang memerintahkan alam dunia dan manusia, begitu pula jiwa manusia, sebagai
jiwa-jiwa lain dan segala apa yang terdapat di bawah bulan, memancar dari akal
kesepuluh (akal fa al) ini.[12]
Sebagaimana
al-Farabi, Ibn Sina juga mengajukan teori emanasi ini mentauhidkan Tuhan
semotlak-mutlaknya, karena itu Tuhan tidak bisa secara langsung menciptakan
alam ini yang banyak jumlah unsurnya. Jika Tuhan berhubungan langsung dengan
alam yang plural ini, tentu dalam pemikiran Tuhan terdapat hal yang plural
pula. Hal ini tentu merusak citra tauhid, ke Esaan Tuhan menjadi ternoda
karenanya[13]
Bila dicermati secara teliti, perbedaan yang mendasar antara teori emanasi
Platinus dengan Ibn Sina, juga al-Farabi, karena bagi Plotinus alam ini hanya
terpancar dari Tuhan, yang mengesankan Tuhan tidak sebagai pencipta dan tidak
uktif. Hal ini jika ditangkap secara metafora yang ia gunakan adalah bagaimana
mentari memancarkan sinarnya. Sedangkan dalam Islam,
emanasi ini ada dalam rangka menjalankan cara Tuhan menciptakan alam. Alam ini
sudah qath'i al-dalalah yakni diciptakan Tuhan, dan ia bersifat Kholik.
Kekhalikan Tuhan ini mesti diimani seutuhnya oleh setiap muslim. Bagi orang
yang mengingarinya dapat membawa kekafiran. Oleh karena itu, dalam Islam, Tuhan
bersifat aktif (Khalik: ism-fa'il), maka secara metafora yang mengakibatkannya
bagi mentari dengan sinarnya merupakan ibarat yang dapat menyesatkan[14].
Sejalan dengan
filsafat emanasi, alam ini qadim, karena ia diciptakan oleh Allah sejak zaman
azali. Terdapat prbedaan yang besar antara qadimnya Tuhan dengan alam.
Perbedaannya terletak pada sebab pembuatan alam terwujud. Keberadaan alam tidak
tiketahui oleh zaman, maka alam qadım dari segi zaman (taqaddum li zamany).
Adapun dari segi zat, hasil pancaran dari Tuhan, maka alam ini baharu (hudud
zarihi). Sedangkan Tuhan adalah taqoddum bi zatihi. Dia merupakan semua yang
ada dan dia adalah pencipta alam[15]
Jadi alam ini baharu dan qadim, baharu dari segi zatnya dan qadim dari segi
zaman.
[1] Ahmad
Daudy, Kuliah Filsafat Iskon, h. 8.
[2] Ahmad
Daudy, Kuliah Filsafat Islam, h. 8-9
[3] Kamil Muhammad, The Sina Hayatuhu Atsaruhu wa Filsafatuhu, (Bairut:
Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1991), h. 82-84.
[4] Khalil
Al-Fukhury, Tarikh al-Falsafah al-Arabiyah, 223-224
[5] De
Boer J.T. Sejarah Filsafat Islam, h. 198.
[6] Harun
Nasution, Filsafat din Mixtiviome dalam Ixkom, h. 35.
[7] Ahmad
Daudy, Kuliah Filsafat Islam, h. 74,
[8] Harun
Nasution, Filsafat dan Misticivme dalam Ielam, h. 35
[9] Hasbullah
Bakry, Disekitar Fibafat Scolatik Islam, cet. 3. Jakarta: Tinta Mas, 1973) h.
45
[10] Harun
Nasution, Filsafat dan Misticizme dalam Islam, h. 34-35.
[11] De
Boer J.T, Sejarah Filsafat Islam, h. 199.
[12] Henry Korban. Sejarah Filsafat Islam, (teri). Nasir Nurawwah dan
Hasan Qubais. (Jakarta Mimn, 2006), h. 126.
[13] Bakker
S.Y JW.M. Sejarah Fibafat dalam Islam, (Yogyakarta: Kanisius, 1978), h. 48
[14] Sirajuddin
Zar. Filsafat Islam. Filosof dan Filsafat nyaa, h. 70.
[15] Sirajuddin
Zar, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, h. 71-72.
Komentar
Posting Komentar