Mahasiswa
adalah suara rakyat. Mahasiswa adalah agent of chage. Kita semua sudah
mengetahuinya. Sering kali mahasiswa mengadakan, berpartisipasi, dan
menginisiasi dalam demo, protes, dan lain sebagainya sebagai wujud penyuaraan
akan pendapat mereka. Namun acap kali demo, atau unjuk rasa hanya menyisakan
kelelahan dan nihil hasil. Hal ini disebaban aksi bersuara tidak dibarengi
dengan aksi lapangan yang seimbang. Sama halnya dengan seseorang yang ingin
menjadi pribadi produktif dengan membaca puluhan buku dan mendengarkan ratusan
podcast self improvement, ia tidak akan menjadi pribadi produktif sampai
memutusdkan untuk memulai langkahnya untuk melakukan suatu hal sehingga ia
mencapai tingkatan produktif.
Untuk
menyelesaikan permasalahan yang sudah disuarakan perlu adanya aksi lapangan,
aksi nyata. Pertanyaannya sekarang berapa perbandingan mahasiswa yang bersuara
dan beraksi? Apakah keduanya seimbang? Atau hanya yang bersuara lebih banyak
daripada yang beraksi? Aksi bukan hanya terjun kelapangan untuk demo. Namun
melakukan riset, survey, dan mencari Solusi akan permasalahan yang ada. Hal
inilah yang dibutuhkan Indonesia. Jika pihak yang berwenang tidak bisa mengubah
kebijakan segaimana yang diharapkan oleh mahasiswa, maka sudah saatnya
mahasiswa turun tangan ke lapangan untuk menyelesaikan sedikit demi sedikit dimulai
dari skala kecil di lingkungan masyarakat. Disinilah peran mahasiswa, Masyarakat
membutuhkan mahasiswa yang ambil peran dengan melakukan aksi, bukan hanya
secarik kertas berjudul ijazah.
Dari mana
mahasiswa bisa memulai? Amati, Tiru, Modifikasi (ATM) salah satu metode bisnis
yang sangat populer dan bisa diimplementasikan di berbagai bidang. Pandawara
group, sebagai contoh aksi nyata untuk permasalahan sampah dan kebersihan
lingkungan yang bisa ditiru. Tidak akan terbatas di permasalahan lingkungan
saja untuk bisa ambil peran bermodalkan kepedulian dan tekad akan menjadi
sebuah aksi nyata yang membawa pengaruh signifikan selama ada evaluasi, dan
inovasi.
Komentar
Posting Komentar