Langsung ke konten utama

Pokok - Pokok Pemikiran Filsafat Ibnu Sina

  Terdapat 2 poko pemikiran Ibnu Sina terhadap Filsafat, yaitu Filsafat Wujud dan Filsafat Emanasi 1.       Filsafat Wujud        Dalam pembuktian tentang eksistensi Tuhan, Ibn Sina menempuh jalan yang agak berbeda dengan jalan yang ada adalam agama dan juga dengan dalil para teolog (ahli mutakallimin) yang tertitik tolak pada konsep "alam baharu ia sebenarnya hanya melanjutkan dalil ontologi yang berasal dari Aristoteles dan mengikuti al-Farabi sebelumnya dengan membagikan wujud ini kepada dua jenis, yaitu wajib al-wujud dan mumkin al-wujud, sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya. [1]          Wajib al-wujud adalah sesuatu yang ada (al-manjud) yang jika diandaikan tidak ada, ia menjadi mustahil, dengan kata lain ia mesti adanya. Sedangkan yang dimaksud dengan mumkin al-wujud dalah yang tidak diandaikan, tidak ada atau ada, ia tidak menjadi mustahil, maksudnya ia boleh ada dan boleh...

Biografi Lengkap Ibnu Sina Filsuf Muslim Berpengaruh Era pra-modern - ترجمة ابن سينا

 

Ibn Sina memiliki nama lengkap yaitu Abu Ali al-Husein ibn Abdullah  ibn al-Hasan ibn Ali Ibn Sina. .[1] Ia dilahirkan ke dunia bertepatan tahun 350  H/950 M, di kota Afsyanah sebelah Bukhara, kota Balkh (Khurasan) dalam  dinasti Samaniyah. Kemudian Ibn Sina dikenal oleh orang Eropa dengan nama Avicenna akibat pada pristiwa metamorfosis yang terjadi antara Yahudi,  Spanyol dan Latin[2]   Sebab pada masa itu lidah orang Spanyol mengucapkan  kata Ibn dengan sebutan Aben atau Even. Pristiwa itu atas penerjemahan buku- buku teks bahasa Arab ke dalam bahasa Latin itu terjadi pada abad ke-12  yakni Eropa tepatnya di Spanyol[3]

Ayahnya bernama Abdullah adalah seorang Ismailliyah[4]. Lewat usaha ayahnya, Ibn Sina tertarik untuk mempelajari ilmu filsafat dengan menekuni  alam fikiran Yunani, Islam dan berbagai perangkat materi filsafat lainnya.  Selain itu, ia juga mempelajari ilmu logika, geometri, dan astronomi dari Abu  Abdillah dan secara otodidak, ia belajar ilmu kedokteran, fisika dan metafisika  serta memperoleh pengetahuan secara mendalam dari jenis ilmu yang disebut  terakhir ini. dalam usia enam belas tahun, ia telah dikenal sebagai seorang dokter yang ahli dalam berbagai penyakit. Dan dalam usia delapan belas  tahun, ia telah menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan, seperti filsafat,  matematika, logika, astronomi, musik, mistik, bahasa, dan ilmu hukum Islam.  

Namanya semakin terkenal dalam ilmu kedokteran, ketika ia dapat  menyembuhkan penyakit yang diderita Nuh Ibn Mansur (Penguasa Bukhara). [5] Disinyalir oleh De Boer, setelah menyembuhkan Penguasa Bukhara tersebut, sebagai imbalan Sultan mengizinkan Ibn Sina memamfaatkan perpustakaan  pribadinya, sejak itu ia memuaskan dirinya dengan berbagai bahan bacaan ilmu pengetahuan[6] Dalam usia Ibn Sina memasuki 20 tahun, ayahnya meninggal dunia. Ia kemudian pindah ke Jurjan, karena terjadi kekacauan politik pada waktu itu,  dari kota ini kemudian ia ke Hamazan (bagian barat Iran). Di Hamazan, ia pernah diangkat menjadi menteri di istana Sam al-Daulah. Karena terlibat konflik politik juga, akhirnya ia dipenjarakan dan berhasil meloloskan diri, lalu hijrah ke kota Isfahan di istana penguasa dan meninggal pada tahun 428H. (1037 M).[7] Ibnu Sina berguru kepada Abu ‘Abd Allah Al-Natili dan Isma’il Sang Zahid,[8] yang di mana berhasil menguasai ilmu pengetahuan yang diajarkan gurunya secara lengkap bahkan melebihi gurunya sendiri. Setelah mngetahui semua ilmu yang diberikan oleh gurunya, Ibnu Sina merasa bingung untuk memuaskan hasrat belajarnya. Kemudian Ibnu Sina mendapatkan petunjuk atas kebingungannya, Ibnu Sina diberikan kebebasan masuk ke perpustakaan istana Khutub Khana[9] hal itu didapatkan atas keberhasilannya mengobati pangeran Nuh Ibn Mansur seperti yang dijelaskan tadi. Di perpustakaan itulah Ibnu Sina banyak menghabiskan waktunya dari siang hingga malam demi memuaskan hasrat belajarnya. Kejeniusan Ibnu Sina inilah yang telah mengantarkannya dalam keberhasilannya menguasai semua ilmu pengetahuan dengan baik, juga dengan dukungan dari penguasa yang telah memberikannya kebebasan.

Ibnu sina juga secara tidak langsung telah berguru kepada salah satu filosof muslim yaitu, Al-Farabi, ini dikarenakan Ibnu Sina dalam kesulitan memahami metafisika Aristoteles, walaupun Ibnu Sina telah membacanya sebanyak 40 kali dan menghafalnya, akan tetapi Ibnu Sina tidak dapat memahaminya. Ibnu Sina kemudian mendapat jawaban dengan risalah AlFarabi, Ibnu Sina terbantu dalam memahami metafisika Aristoteles sehingga Ibnu Sina menuliskan dalam otobiografinya atas hutang budinya tersebut.[10] Secara singkat Ibnu Sina dikatakan sebagai pewaris filsafat Neoplatonisme Islam yang dikembangkan Al-Farabi, atau bahasa lainnya Ibnu Sina adalah penerus dan pengembang filsafat Yunani yang lebih dulu dirintis oleh Al-Farabi dan telah dibukakan pintunya oleh Al-Kindi. Keberhasilannya itu membuat filsafat sukses di tangannya atau boleh dikatakan bahwa filsafat telah mencapai puncak-puncaknya, dari prestasi itulah Ibnu Sina diberi sebuah kehormatan dengan diberi gelar nama Al-syaikh Al-Rais, yang bermakna pemimpin utama..[11] Sejarah pemikiran filsafat telah menjadikan Ibnu Sina sebagai seorang filsuf Muslim yang luar biasa. Bukan hanya mewariskan sistem berfikir tetapi Ibnu Sina juga merupakan satu-satunya filsuf Islam. Karyanya banyak memengaruhi perkembangan Islam, Ibnu Sina juga menunjukkan dasar pijakan berfilsafat dalam tradisi keilmuan Islam dengan metode-metode yang dilengkapi dengan argumen yang ketat. Ibnu Sina dengan gagasannya ini berusaha merumuskan kembali pemikiran rasional murni dan tradisi intelektual Hellenisme, yang diwarisi dalam sistem keagamaan Islam.

Karya-karya Ibnu Sina seringkali ditemui dengan menggunakan bahasa Arab dan Persia. Karyanya yang terkenal adalah Asy-Syifa, An-Najat, dan Al-Isyarat. Ibnu Sina di Barat lebih dikenal dengan nama Avicenna, Ibnu Sina juga diberi gelar The Prince of The Physician oleh para sarjana Barat.

            Pemikiran filsafat Ibnu Sina dikenal dengan konsep kejiwaan yang dimilikinya. Buku-buku Ibnu Sina yang membahas masalah kejiwaan bersumber dari pemikiran yang tidak lepas dari berbagai persoalan filsafat. Filsafat jiwa Ibnu Sina dipengaruhi oleh filsafat Galius, Plotinus, khususnya Aristoteles yang banyak dijadikannya sebagai sumber gagasannya. Namun, itu tidak berarti bahwa Ibnu Sina tidak memiliki konsep sendiri atau pikiran sebelumnya, baik itu dalam soal fisika ataupun metafisika. Ibnu Sina dalam teori fisikanya telah banyak menggunakan eksperimen serta mengupas pembahasan dalam ranah kedokteran. Kemudian, dalam ranah metafisika Ibnu Sina mendalami serta memperbaharui, yang menyebabkannya mendekati pendapat para filsuf modern. Pengaruh Ibnu Sina dalam pemikiran kejiwaan tidak dapat dihiraukan lagi terkhusus pada pemikiran Arab pada abad 10 M-19 M.[12] Pada abad pertengahan buku-buku Ibnu Sina dijadikan sebagai bahan ajaran mata kuliah di berbagai universitas, sehingga membuat namanya semakin dikenal di Eropa dan dianggap sebagai tokoh yang sangat berpengaruh pada abad itu, bahkan sampai saat ini buku-buku atau karya karyanya banyak dijadikan sebagai bahan referensi[13] harus dilaluinya, seperti saat perpustakaan istana Khutub Khana terbakar, Ibnu Sina dituduh sebagai dalang terjadinya insiden tersebut dengan alasan agar orang lain tidak dapat mempelajari ilmu pengetahuan yang ada pada perpustakaan itu. Ibnu Sina juga pernah dipenjara oleh putra Al-Syams Al-Dawlah, hanya dikarenakan Ibnu Sina tidak menyukai kehadirannya. Ibnu Sina dipenjara selama berbulan bulan, kemudian berhasil meloloskan diri dan melarikan diri ke Isfahan. Ibnu Sina kemudian disambut dengan hormat oleh para pengagumnya, dan di kota inilah Ibnu Sina mengabdikan dirinya sampai akhir hidupnya dan wafat pada tahun 428 H (1037 M), di umur 57 tahun.



[1]Seyyed Hossein Nasr, Tiga Madzhab Utama Filsafat Islam: Ibnu Sina, Suhrawardi dan Ibnu Arabi, (terj), Ach. Maimun Syamsuddin (Yogyakarta: IRCiSoD, 2014), h. 15.

[2] Maimun Syamsuddin (Yogyakarta: IRCiSoD, 2014), h. 15.

Untuk lebih detail mengenai pristiwa metamorposis antara Yahudi, Spanyol dan Latin,  menjadi acuan dalam peradaban pengetahuan Islam di dunia Eropa. Lihat Nurcholis Madjid, Kaki Langit Peradaban Islam, (Jakarta: Paramadina, 1992), h. 94.

[3] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: PT Raja Grofindo Persada, 2007), h. 91.

[4] De Boer J.T, Sejarah Filsafat Islam, (terj). Muhammad Abdul al-Hadi, (Jakarta: Mizan,  2003), h. 165.

[5] Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1989), h. 66.

[6] De Boer J.T, Sejarah Filsafat Islam, h. 165.

[7] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 34

[8] Madjid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1987), h. 191.

[9] Muhammad Athif Al-‘Iraqy, al-Falsafat al-Islamiyat, (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1978), h. 44

[10] Madjid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam, h. 190.

[11] Nurcholish Madjid, Khazanah Intelektual Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 31.

[12] Wahyu Murtiningsih, Para Filsuf Dari Plato Sampai Ibnu Bajjah, h. 321.

[13] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999), h. 66-67

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nahwu - Pembagian Badal Lengkap dan Contohnya - البدل وأنواعه

Pengertian Badal Secara bahasa Badal berarti pengganti. Sedangkan dalam kitab syarh alfiyah Ibn Aqil, badal merupakan pengganti yang dimaksudkan secara langsung tanpa ada perantara seperti huruf 'athaf atau yang lain.  Secara pemahaman badal yang dimaksud adalah Kata atau kalimat yang menjadi pengganti dari mubdal minhu (yang diganti), maka ia mengikuti seluruh i'rabnya.  diantara tanda badal yaitu dapat diselipkan kata "yaitu" atau jika dihapuskan salah satu antara badal atau mubdal minhu sehingga tidak merusak kalimat tersebut, maka disebut badal. Syarat Dikatakan Badal 1. Terdapat badal dan mubdal minhu 2. I'rab badal mengikuti mubda minhu 3. mubdal minhu dapat berupa ism dan fi'il (kata kerja) Pembagian Badal Dalam kitab Syarh Alfiyah Ibn Malik Milik Imam Ibn Aqil badal dibagi menjadi 4 : 1. Badal Kul Min Kul - بدل الكل من الكل Badal ini sering disebut badal syai minasyai atau badal muthobiq. Badal Kul min Kul merupakan badal yang memiliki kesetaraan makna...

Karya dan Tulisan Ibnu Sina : Bidang Jiwa dan Filsafat

Karya-karya Ibn Sina           Ibnu Sina memiliki banyak karya-karya, yang diperkirakan sebanyak 250 judul, di dalamnya termasuk buku-buku singkat serta sekumpulan dari surat-suratnya, itu semua sudah mencakup tema-tema yang sangat populer pada pada masanya (Abad Pertengahan).   Tulisan Ibnu Sina pada umumnya menggunakan bahasa Arab, namun sebagian tulisannya juga ada yang berbahasa Persia, seperti buku yang dipersembahkan kepada Ali ad-Daulah, di mana dianggap sebagai tulisan falsafi pertama yang berbahasa Persia. Ibnu Sina dalam karyanya yang bertulisan Arab kadang masih sulit dipahami, dikarenakan gaya bahasa Arabnya. Setelah berada di Isfahan Ibnu Sina mempelajari sastra Arab, kemudian Ibnu Sina berhasil menjawab Sebagian kritikus-kritikus sastra Arab dan juga serta berhasil memperbaiki gaya bahasanya yang sulit dipahami [1] Karya-karya filsafat Ibnu Sina meliputi berbagai macam karyanya seperti Asy-Syifa’ yang bermakna Penyembuhan, karya ini dian...

Lulus SMA Siap Mengahadapi Abstraknya Dunia Perkuliahan?

Dunia perkuliahan adalah masa transformasi terbesar bagi remaja dalam riwayat pendidikan mereka. Masa dimana perubahan drastis yang dahulu serba diberi, disuap, dan disediakan, beralih menjadi mencari sendiri, mengolah sendiri, sampai bisa mengkonsumsi sendiri. Tidak lain tidak bukan hal ini tentang ilmu, pemahaman, bahkan pengalaman. Keras dan kejam kiranya dibayangkan. Namun, pada realita yang terjadi, banyak tantangan yang membantu mahasiswa menemukan jatidirinya. Banyak privilege-privilege yang dimiliki mahasiswa, antaranya, lingkungan baru, perubahan identitas, tantangan pendidikan yang lebih tinggi, koneksi yang lebih luas. Untuk menghadapi dunia baru yang tidak bisa dibayangkan hanya dengan cerita dari sesama almamater atau teman sejawat, perlu adanya persiapan untuk menghadapi rintangan unpredictable tersebut. Tips untuk menghadapi perubahan dari SMA ke Mahasiswa baru : -           Bersikap terbuka dan siap untuk beradaptasi dengan lingkungan baru,...