Ibn Sina
memiliki nama lengkap yaitu Abu Ali al-Husein ibn Abdullah ibn al-Hasan ibn Ali Ibn Sina. .[1]
Ia dilahirkan ke dunia bertepatan tahun 350
H/950 M, di kota Afsyanah sebelah Bukhara, kota Balkh (Khurasan)
dalam dinasti Samaniyah. Kemudian Ibn
Sina dikenal oleh orang Eropa dengan nama Avicenna akibat pada pristiwa
metamorfosis yang terjadi antara Yahudi,
Spanyol dan Latin[2] Sebab pada masa itu lidah orang Spanyol
mengucapkan kata Ibn dengan sebutan Aben
atau Even. Pristiwa itu atas penerjemahan buku- buku teks bahasa Arab ke dalam
bahasa Latin itu terjadi pada abad ke-12
yakni Eropa tepatnya di Spanyol[3]
Ayahnya bernama Abdullah adalah seorang Ismailliyah[4]. Lewat usaha ayahnya, Ibn Sina tertarik untuk mempelajari ilmu filsafat dengan menekuni alam fikiran Yunani, Islam dan berbagai perangkat materi filsafat lainnya. Selain itu, ia juga mempelajari ilmu logika, geometri, dan astronomi dari Abu Abdillah dan secara otodidak, ia belajar ilmu kedokteran, fisika dan metafisika serta memperoleh pengetahuan secara mendalam dari jenis ilmu yang disebut terakhir ini. dalam usia enam belas tahun, ia telah dikenal sebagai seorang dokter yang ahli dalam berbagai penyakit. Dan dalam usia delapan belas tahun, ia telah menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan, seperti filsafat, matematika, logika, astronomi, musik, mistik, bahasa, dan ilmu hukum Islam.
Namanya semakin terkenal dalam
ilmu kedokteran, ketika ia dapat
menyembuhkan penyakit yang diderita Nuh Ibn Mansur (Penguasa Bukhara). [5]
Disinyalir oleh De Boer, setelah menyembuhkan Penguasa Bukhara tersebut,
sebagai imbalan Sultan mengizinkan Ibn Sina memamfaatkan perpustakaan pribadinya, sejak itu ia memuaskan dirinya
dengan berbagai bahan bacaan ilmu pengetahuan[6]
Dalam usia Ibn Sina memasuki 20 tahun, ayahnya meninggal dunia. Ia kemudian
pindah ke Jurjan, karena terjadi kekacauan politik pada waktu itu, dari kota ini kemudian ia ke Hamazan (bagian
barat Iran). Di Hamazan, ia pernah diangkat menjadi menteri di istana Sam
al-Daulah. Karena terlibat konflik politik juga, akhirnya ia dipenjarakan dan
berhasil meloloskan diri, lalu hijrah ke kota Isfahan di istana penguasa dan
meninggal pada tahun 428H. (1037 M).[7]
Ibnu Sina berguru kepada Abu ‘Abd Allah Al-Natili dan Isma’il Sang Zahid,[8]
yang di mana berhasil menguasai ilmu pengetahuan yang diajarkan gurunya secara
lengkap bahkan melebihi gurunya sendiri. Setelah mngetahui semua ilmu yang
diberikan oleh gurunya, Ibnu Sina merasa bingung untuk memuaskan hasrat
belajarnya. Kemudian Ibnu Sina mendapatkan petunjuk atas kebingungannya, Ibnu
Sina diberikan kebebasan masuk ke perpustakaan istana Khutub Khana[9]
hal itu didapatkan atas keberhasilannya mengobati pangeran Nuh Ibn Mansur
seperti yang dijelaskan tadi. Di perpustakaan
itulah Ibnu Sina banyak menghabiskan waktunya dari siang hingga malam demi
memuaskan hasrat belajarnya. Kejeniusan Ibnu Sina inilah yang telah
mengantarkannya dalam keberhasilannya menguasai semua ilmu pengetahuan dengan
baik, juga dengan dukungan dari penguasa yang telah memberikannya kebebasan.
Ibnu sina juga secara tidak langsung telah
berguru kepada salah satu filosof muslim yaitu, Al-Farabi, ini dikarenakan Ibnu
Sina dalam kesulitan memahami metafisika Aristoteles, walaupun Ibnu Sina telah
membacanya sebanyak 40 kali dan menghafalnya, akan tetapi Ibnu Sina tidak dapat
memahaminya. Ibnu Sina kemudian mendapat jawaban dengan risalah AlFarabi, Ibnu
Sina terbantu dalam memahami metafisika Aristoteles sehingga Ibnu Sina
menuliskan dalam otobiografinya atas hutang budinya tersebut.[10]
Secara singkat Ibnu Sina dikatakan sebagai pewaris filsafat Neoplatonisme Islam
yang dikembangkan Al-Farabi, atau bahasa lainnya Ibnu Sina adalah penerus dan
pengembang filsafat Yunani yang lebih dulu dirintis oleh Al-Farabi dan telah
dibukakan pintunya oleh Al-Kindi. Keberhasilannya itu membuat filsafat sukses
di tangannya atau boleh dikatakan bahwa filsafat telah mencapai
puncak-puncaknya, dari prestasi itulah Ibnu Sina diberi sebuah kehormatan
dengan diberi gelar nama Al-syaikh Al-Rais, yang bermakna pemimpin utama..[11]
Sejarah pemikiran filsafat telah
menjadikan Ibnu Sina sebagai seorang filsuf Muslim yang luar biasa. Bukan hanya
mewariskan sistem berfikir tetapi Ibnu Sina juga merupakan satu-satunya filsuf
Islam. Karyanya banyak memengaruhi perkembangan Islam, Ibnu Sina juga
menunjukkan dasar pijakan berfilsafat dalam tradisi keilmuan Islam dengan
metode-metode yang dilengkapi dengan argumen yang ketat. Ibnu Sina dengan
gagasannya ini berusaha merumuskan kembali pemikiran rasional murni dan tradisi
intelektual Hellenisme, yang diwarisi dalam sistem keagamaan Islam.
Karya-karya Ibnu Sina seringkali ditemui dengan menggunakan bahasa
Arab dan Persia. Karyanya yang terkenal adalah Asy-Syifa, An-Najat, dan
Al-Isyarat. Ibnu Sina di Barat lebih dikenal dengan nama Avicenna, Ibnu Sina
juga diberi gelar The Prince of The Physician oleh para sarjana Barat.
Pemikiran filsafat Ibnu Sina dikenal
dengan konsep kejiwaan yang dimilikinya. Buku-buku Ibnu Sina yang membahas
masalah kejiwaan bersumber dari pemikiran yang tidak lepas dari berbagai
persoalan filsafat. Filsafat jiwa Ibnu Sina dipengaruhi oleh filsafat Galius,
Plotinus, khususnya Aristoteles yang banyak dijadikannya sebagai sumber
gagasannya. Namun, itu tidak berarti bahwa Ibnu Sina tidak memiliki konsep
sendiri atau pikiran sebelumnya, baik itu dalam soal fisika ataupun metafisika.
Ibnu Sina dalam teori fisikanya telah banyak menggunakan eksperimen serta
mengupas pembahasan dalam ranah kedokteran. Kemudian, dalam ranah metafisika
Ibnu Sina mendalami serta memperbaharui, yang menyebabkannya mendekati pendapat
para filsuf modern. Pengaruh Ibnu Sina dalam pemikiran kejiwaan tidak dapat
dihiraukan lagi terkhusus pada pemikiran Arab pada abad 10 M-19 M.[12]
Pada abad pertengahan buku-buku Ibnu Sina dijadikan sebagai bahan ajaran mata
kuliah di berbagai universitas, sehingga membuat namanya semakin dikenal di
Eropa dan dianggap sebagai tokoh yang sangat berpengaruh pada abad itu, bahkan
sampai saat ini buku-buku atau karya
karyanya banyak dijadikan sebagai
bahan referensi[13]
harus dilaluinya, seperti saat perpustakaan istana Khutub Khana terbakar, Ibnu
Sina dituduh sebagai dalang terjadinya insiden tersebut dengan alasan agar
orang lain tidak dapat mempelajari ilmu pengetahuan yang ada pada perpustakaan
itu. Ibnu Sina juga pernah dipenjara oleh putra Al-Syams Al-Dawlah, hanya
dikarenakan Ibnu Sina tidak menyukai kehadirannya. Ibnu Sina dipenjara selama
berbulan bulan, kemudian berhasil meloloskan diri dan melarikan diri ke
Isfahan. Ibnu Sina kemudian disambut dengan hormat oleh para pengagumnya, dan
di kota inilah Ibnu Sina mengabdikan dirinya sampai akhir hidupnya dan wafat
pada tahun 428 H (1037 M), di umur 57 tahun.
[1]Seyyed Hossein Nasr, Tiga Madzhab Utama
Filsafat Islam: Ibnu Sina, Suhrawardi dan Ibnu Arabi, (terj), Ach. Maimun
Syamsuddin (Yogyakarta: IRCiSoD, 2014), h. 15.
[2] Maimun Syamsuddin (Yogyakarta: IRCiSoD, 2014), h. 15.
Untuk lebih detail mengenai pristiwa
metamorposis antara Yahudi, Spanyol dan Latin, menjadi acuan dalam peradaban pengetahuan
Islam di dunia Eropa. Lihat Nurcholis Madjid, Kaki Langit Peradaban Islam,
(Jakarta: Paramadina, 1992), h. 94.
[3] Sirajuddin Zar,
Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: PT Raja Grofindo Persada,
2007), h. 91.
[4] De Boer J.T, Sejarah Filsafat Islam, (terj). Muhammad Abdul
al-Hadi, (Jakarta: Mizan, 2003), h. 165.
[5] Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan
Bintang, 1989), h. 66.
[6] De Boer J.T, Sejarah Filsafat Islam, h. 165.
[7] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta:
Bulan Bintang, 1992), h. 34
[8] Madjid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam, (Jakarta: Pustaka Jaya,
1987), h. 191.
[9] Muhammad Athif Al-‘Iraqy, al-Falsafat al-Islamiyat, (Kairo: Dar
al-Ma’arif, 1978), h. 44
[10] Madjid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam, h. 190.
[11] Nurcholish Madjid, Khazanah Intelektual Islam, (Jakarta: Bulan
Bintang, 1984), h. 31.
[12] Wahyu Murtiningsih, Para Filsuf Dari Plato Sampai Ibnu Bajjah, h.
321.
[13] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama,
1999), h. 66-67
Komentar
Posting Komentar